21
Sep
08

gombalisme, laki – laki kok cengeng ?

dalam berkarya seni ada satu attitude yang harus di perhatikan bagi para seniman musikus ato para pencipta lagu, yaitu eksistensi dan apresiasi mereka dalam setiap karya yang di tuangkan. artinya ada satu tanggung jawab moril yang harus di emban bukan untuk kepentingan publik tapi kepentingan person si pencipta lagu itu sendiri. pembahasan ini tidak begitu signifikan artinya sangat subjektif, tapi ada satu nilai yang pengen gw jabarkan disini.

kejujuran ! yup ini yang penting. jujur dalam menciptakan karya seni ato lagu sesuai dengan dengan isi hatinya. karena setelah jujur si musisi ato si pencipta lagu ini bisa mempertanggungjawabkan karya2nya dan  betul menggambarkan siapa dirinya sebenarnya. tampa harus di batasi dalam berkarya cipta.

kejujuran ini seakan menjadi sesuatu yang langka di kalangan artis ato musisi – musisi mainstream sekarang, terutama bagi band band cengeng yang ada saat ini. mereka saat ini menjadi boneka yang siap di dandan oleh major label, di poles dan di beri emas dan harta.  “terpenjara” oleh major label, dead line dan isi kontrak kerja dan segala macam bentuk perjanjian yang bernilai angka dan nominal, perlahan tapi pasti membunuh karakter utama mereka sebagai laki – laki tulen. untuk jangka pendek memang menguntungkan tapi jangka panjangnya band band cengeng tersebut hanya menjadi sapi perahan dari major label kapitalis.

kejujuran dalam karya seni itu penting. saat ini artis ato musisi sudah terjebak dengan budaya hippies dan ambigu. mereka membawakan karya – karya cemen bukan karena urgensi ato kebutuhan jiwa mereka tapi karena kebutuhan masyarakat pada umumnya. sehingga nilai – nilai estetika dalam setiap karya seninya menjadi nomor yang kesekian bahkan keseratus. mereka menjadi penggombal ulung, dan anehnya mereka tetap sustain dan mendapat tempat di masyarakat.

anda2 tentu bisa melihat artis2 yang terkenal lewat lagu2 cengengnya dengan  cinta yang menyayat hati. tapi dalam kehidupan sehari – hari si artis terjebak oleh budaya hippies dan melakukan hal2 yang bertentangan dengan esensi yang mereka buat sendiri dalam karya2 ato lagu – lagu mereka ( yang sok suci ) , mereka seakan menjadi sang penggombal yang sustain di masyarakat kita yang ambigu juga. masyarakat yang rela di gombal oleh artis dan  band2 cengeng tadi.

band band cengeng selalu di cap oleh masyarakat adalah kumpulan anak muda yang baik hati. mereka di terima karena sesuai dengan konteks pikiran masyarakat endonesa pada umumnya yaitu anak baik baik. bulan ramadhan tiba mereka di paksa oleh sang major label berlomba – lomba mengambil hati dan uang masyarakat dengan mengambil tema2 religi dalam setiap lagunya, dan melepas segala aksesories hippies dan street fahion yang telah menjadi produk kapitalis yang melekat di badan mereka diganti dengan hal hal yang berbau agama secara simbolik. dan setelah itu mereka pun kembali lagi menjadi penggombal yang ulung.

inilah yang menyebabkan kenapa gw angkat topi buat mas ebiet g ad, bimbo, frangky s, purgatory yang secara jujur mengumandangkan keagungan tuhan tampa mengenal waktu dan RBT ( ringtone band tolol ) , dan mengangkat jari tengah buat band2 cengeng dan RBT nya, F**k up !! shit!!😉


38 Responses to “gombalisme, laki – laki kok cengeng ?”


  1. Minggu, 21 September 2008 pukul 1:05 pm

    sepandai pandai tupai melompat pasti jatuh juga

  2. Minggu, 21 September 2008 pukul 7:32 pm

    yang artinya sok romantis kecengeng-cengengan hanya untuk mengikuti pasar. dan sok ngreligius untuk mengeruk uang . Dan pada kenyataannya didalam dirinya tidak ada sifat-sifat yang kek gitu..duh, ah sudahlah:mrgreen:

  3. Minggu, 21 September 2008 pukul 8:56 pm

    wait? budaya hippies adalah cengeng? hohohoho… anda gak salah?

    anda menulis? :

    “kejujuran dalam karya seni itu penting. saat ini artis ato musisi sudah terjebak dengan budaya hippies dan ambigu. mereka membawakan karya – karya cemen bukan karena urgensi ato kebutuhan jiwa mereka tapi karena kebutuhan masyarakat pada umumnya”

    lalu anda menulis lagi dengan membabi buta

    “anda2 tentu bisa melihat artis2 yang terkenal lewat lagu2 cengengnya dengan cinta yang menyayat hati. tapi dalam kehidupan sehari – hari si artis terjebak oleh budaya hippies dan melakukan hal2 yang bertentangan dengan esensi yang mereka buat sendiri dalam karya2 ato lagu – lagu mereka ( yang sok suci ) , mereka seakan menjadi sang penggombal yang sustain di masyarakat kita yang ambigu juga. masyarakat yang rela di gombal oleh artis dan band2 cengeng tadi.”

    apa anda tahu apa hippies itu? kalau anda menganggap hippies adalah cengeng, berarti anda masih kurang belajar. masih belum tahu esensi hippies itu apa…

    hahahaha… saya jadi pengen tertawa melihat keluguan anda. anda tahu flower generation bukan? musik dari generasi mereka adlah yang terbaik. bahkan hingga sekarang. musik punk yang anda agung2kan pun tetep berkiblat pada musik era segitu. kalau anda benar anak punk pasti tahu siapa itu Izzy and the stooges. Velvet Underground and Nico pun berasal dari era flower generation. meskipun pada akhirnya Ramones meruntuhkan segala yang berbau hippies. kalau anda anak yang mengagung2kan revolusi dan segala tetek bengeknya, pasti anda tahu MC5. mereka pun berasal dari era flower generation. masih ada Beatles, Led Zep, The Doors, Janis Joplin hingga Jimi Hendrix. dan anda bilang hippies itu musik cengeng?

    hmmmm… belajar lagi ya😉 dan jangan membabi buta. itu membuktikan kalau emosi anda masih labil🙂

    salam!

  4. Minggu, 21 September 2008 pukul 8:59 pm

    tul.. tul… betul! kejujuran mengikuti kata hati dalam berkarya itu pondasi penting dalam bermusik yang idealis, yaituh menciptakan karya musik yang seindah indahnya, seideal idealnya menurut selera dan kata hati si musisi itu sendiri! soal orang lain ngerti, soal orang lain menikmati? masa bodoh! yang penting ekspresi jiwa si musisi terpuaskan seutuh utuhnya.

    band band komersil sih jangan berharap jiwa musiknya bisa terpuaskan! buat major label mah yang penting lagunya jadi hit, masyarakat suka trus albumnya laku biar dapet duit sebanyak banyaknya! soal si band/musisi punya ekspresi jiwa sih siapa yang peduli, emang siapa luh kata major label:mrgreen: yang penting tuh lagu lu laku tau!

    ah Mas Erick, saya mah demennya ngegombalin mahasiswi mahasiswi ajah!:mrgreen: paling ntar mahasiswi mahasiswi ngakak ngakak sambil ngomong “duh… bapak satu ini! lebay banget sih!” :mrgreen:

  5. Minggu, 21 September 2008 pukul 10:16 pm

    nyanyi sepotong bait lagunya S.I.D dulu…

    *penuh tatto juga piercing….nyanyikan lagu cengeng*

    moshing membabi buta di blognya erick biar dikatain “emosi anda masih labil* juga:mrgreen:

  6. Senin, 22 September 2008 pukul 4:21 am

    halah…. yang penting duit… duit… hihiih

  7. Senin, 22 September 2008 pukul 10:24 am

    @regsa

    cape dehhhhh😆

    @ Mr. nuran

    hmmmm….. blog gw kedatangan kaum hippies😆
    maap jika tulisan gw menyinggung anda… berarti ada satu orang lagi yang gw sejajarkan dengan band2 cengeng, selamat ! ( becanda:mrgreen: )

    lo seharusnya bisa membedakan antara budaya dan karya, budaya adalah cara hidup mereka dan pola pikir. sedangkan karya adalah kreasi yang keluar berupa seni dan musik sebagai media. kedua hal boleh tergantung boleh tidak. contoh seorang pencipta lagu punk ga musti harus berpenampilan “punk” . jika lo memaksakan prespektif ke gw bahwa kaum hippies itu cengeng, ya weis silahkan karena semua itu relatif tergantung person yang mencerna maksud gw.

    hemat gw kaum hippies itu sangat rentan dengan budaya hedonis free sex, narkoba dan gemerlap popularitas ( gw baca juga di en.wikipedia ) . dari cara berpikir gw lo musti sadar bahwa, tidak semua kaum hippies yang lo angung agungkan itu jujur dalam berkarya. mereka cenderung mengikuti trend dan hilang karakter..

    meskipun pada akhirnya Ramones meruntuhkan segala yang berbau hippies. kalau anda anak yang mengagung2kan revolusi dan segala tetek bengeknya, pasti anda tahu MC5. mereka pun berasal dari era flower generation. masih ada Beatles, Led Zep, The Doors, Janis Joplin hingga Jimi Hendrix. dan anda bilang hippies itu musik cengeng?

    😆 mereka menciptakan eranya sendiri terinfluence dari flower generation, palajaran sejarah yang menarik:mrgreen:

    note : budaya yang lahir karena resistan budaya yang sudah ada ( mainstream ), evulutifnya kedua budaya itu bisa saling mempengaruhi, bahkan tercampur baur ( hibrid ) * erickningrat *

    keluguan saia mematahkan dogma bahwa budaya hippies itu “counter culture” , ternyata tidak mereka sekarang bagian dari mainstream.dan bagian dari kapitalis.

    saia musti banyak belajar dari kaum hippies macam anda😆

    @sahatmrt
    😆 saia dukung mahasiswinya pak

    @ironepunx

    headbang…(*#$#&%*&(*#$&%(*$#&%($*%…. tenang wan jangan labil di blog saia ntar tetangga sebelah pada bangun semua:mrgreen:

    @ichanx

    money money money !!

  8. Senin, 22 September 2008 pukul 12:13 pm

    kejujuran ini seakan menjadi sesuatu yang langka di kalangan artis ato musisi – musisi mainstream sekarang, terutama bagi band band cengeng yang ada saat ini.

    Saya pernah baca (lupa bacanya di majalah/koran apa) sebuah wawancara dengan grup band Radja; Di situ mereka dengan jujur mengatakan kalau mereka memang bermusik untuk mencari uang. Nah, kalau yang begitu itu gimana?😀

  9. Senin, 22 September 2008 pukul 12:38 pm

    @ catshade

    pelacur! mungkin kata yang tepat buat band band semacam itu😉
    jujur dalam proses kreasi karya seni dan jujur dalam mencari uang itu beda.
    persamaannya cuma sama sama jujur😆

  10. Senin, 22 September 2008 pukul 1:08 pm

    cihuii bisa main ke blog ini lagi.. heheh.. lama nggak jumpa..
    artikelnya sip boss!
    kayak ahmad dhani yg sering ngoar ngoar nyanyi lagu cinta..
    tapi ngurusin keluarga saja nggak becus…
    heheh

  11. Senin, 22 September 2008 pukul 2:44 pm

    isinya bagus. tp judulnya enh. lha kenapa kalo cowok cengeng? ga boleh. asal ga sampe dieksploitasi industri ya ga masalah. hehe..

  12. Senin, 22 September 2008 pukul 7:54 pm

    ah sy koq juga malas dengar lagu2 cengeng…
    tapi kayaknya tuh cewek2 yg suka dengarin😀 hehehe

  13. Senin, 22 September 2008 pukul 8:24 pm

    Tulisan bermakna mendalam…
    tapi kenapa banyak yg menganggap Kangen Band sbg band cengeng?
    saya bukan fans KB tapi fans musik indonesia…

    Ngomongin ebiet g ade?
    http://mywrotes.wordpress.com/2008/09/22/lagi-dan-alam-manusianya/

  14. Selasa, 23 September 2008 pukul 11:26 am

    @ardianz

    lama tak jumpa, apa kabar brur?:mrgreen:

    @anton

    cengeng yang menye nye ga ketulungan om😆

    @ arul

    saia juga merasa begitu:mrgreen:

    @nono

    saia suka ebiet g ade yang perjalanan ini…….😉

  15. Kamis, 25 September 2008 pukul 12:53 am

    hai lagi…

    hahaha, menurut hemat lo hippies itu rentan free sex dan drugs? gak munak lo? lu kate punk dan aliran musik lain gak rawan drugs dan free sex? gak memungkiri bahwa jim morrison, jimi hendrix dan janis joplin meninggal gara2 drugs… tapi bukankah Sid Vicious juga mati gara2 narkoba? jadi lucu sekali kalo lu menggeneralisir bahwa budaya hippies itu rawan drugs dan free sex. dimanapun, aliran musik apapun, itu rawan drugs dan free sex.

    lu bilang kalau hippies bukan “counter culture”? hohohoho, read more books folks… lu tau kan trigger dari flower generation? kalao lu beneran tau, maka anda juga pasti akan mengerti kalau awalnya flower generation dan kaum hippies merupakan manifestasi dari gerakan anti kemapanan dan counter culuter, yang bisa dibilang akar dari gerakan punk…

    nah, masalahnya, suatu budaya yang populer itu pasti suatu saat akan menjadi korban dari komodifikasi. nah, para komodifikator itu yang berhasil membuat gerakan hippies menjadi tampak seperti gerakan sampah dan hedon belaka. Frank Zappa pun pernah menyayangkan hal ini. dia yang awalnya salah satu pendukung flower generation ini malah berbalik menghujat para hippies karena mereka belakangan tidak memahami esensi dari gerakan flower generation ini. mereka hanya menganggap gerakan itu sebagai sarana untuk bisa bercinta dengan bebas dan nge-drugs dengan bebas pula.

    tampak familiar ha? benar! punk yang dulu adalah counter culture dan gerakan anti kemapanan, sekrang hanya menjadi gerakan tak berarti semata. tau kenapa? karena banyaknya komodifikator. dan media memainkan peranan penting dibalik itu semua. lalu perlahan namun pasti, punk menjadi lifestyle. dan para cecunguk yang tak mengerti esensi dari gerakan punk itu berhasil memperdayai punk dan menjadikan punk hanya sebagai lifestyle semata.

    atau anda sama saja dengan cecunguk2 itu? hmmm, bisa jadi (becanda :p)

    dan pada akhirnya punk sekarang menjadi alat kapitalis untuk mengeruk keuntungan semata. semua tak lain tak bukan karena komodifikasi itu. punk yang dulu minoritas, sekarang menjadi mayoritas… betul tidak?

    trus masalah budaya resistan… hmmm, aku bertanya pada anda. budaya apa sih yang original? musik apa sih yang original? apa lu pikir punk original? kalau bilang soal induk musik kontemporer, blues lah induk musik kontemporer…

    kalau boleh berpendapat lagi…..

    halooooo???!!! hari gini masih memperdebatkan masalah major label dan non-major ( baca:indie)? kemana aja bung? isu itu udah basi, gak jaman! di scene underground, diskursus yang marak adalah perlawanan terhadap penyeragaman selera, bukan lagi major label ato non major… ya mbok stok wacananya di update…

    Catshade wrote:

    Saya pernah baca (lupa bacanya di majalah/koran apa) sebuah wawancara dengan grup band Radja; Di situ mereka dengan jujur mengatakan kalau mereka memang bermusik untuk mencari uang. Nah, kalau yang begitu itu gimana?😀

    lalu anda jawab:

    pelacur! mungkin kata yang tepat buat band band semacam itu😉
    jujur dalam proses kreasi karya seni dan jujur dalam mencari uang itu beda.
    persamaannya cuma sama sama jujur😆

    hueheheheheh…. saya jadi ketawa juga. emang band indie gak nyari duit? bedain dong antara realitas dan utopis! kalo band2 emang tujuannya nyari duit, so what? aku malah acungkan jempol buat radja dan kangen band, mereka setidaknya berani jujur bahwa mereka bermusik memang mencari duit. masalah hasilnya mengecewakan kaum idealis dan terhormat sperti anda, ya itu urusan lain… kalau anda mengecap semua band mayor adalah sampah….

    lalu gimana dengan S.I.D?

    gimana dengan Sex Pistols?

    gimana dengan Pas Band?

    area perjuangan sekarang bukan hanya di indie saja. di major pun silahkan berjuang… jadi, kesimpulan saya, stok diskursus anda sudah basi… hari gini sudah tidak jamannya memperdebatkan major atau indie…

    Tabik!

  16. Kamis, 25 September 2008 pukul 12:14 pm

    @nuran

    mantabz penjelasannya:mrgreen:

    setuju, bahwa musisi manapun, entah punk, pop , rock , dangdutz, hip hop etc etc rentan juga dengan namanya free sex, narkoba, madat:mrgreen:

    tentang budaya resistan, gw berpendapat bahwa

    setiap budaya yang lahir sebagai akibat dari resistan terhadap budaya yang ada,evulutifnya kedua budaya itu cenderung / bisa saling mempengaruhi beralkulturasi menjadi sub budaya yang baru ( hibrid )

    hibrid = ga original😉

    tentang diskursus yang lo maksud di scene underground, gw kira anak2 underground setuju jika wacana mereka ga mau di batasi hanya karena trend yang ada saat ini ato berkembang, perjuangan kita beda bung🙂
    penyeragaman karya itu minornya diskrimasni kreasi,yang berakibat pada pendangkalan opini. hal2 ini yang menyebabkan terjadi resistansi dari sub individu2 seperti gw,
    gw juga pernah ngebahas di tulisan gw sebelumnya https://erickningrat.wordpress.com/2008/09/13/idealisme-dalam-bermusik-itu-penting/

    gw beranalogi, sang gajah major label sudah menancapkan benderanya dan membunuh karakter2 per individu dalam berkarya, disinilah kita bersikap bung!! melawan itu jangan setengah2 dan harus cerdas:mrgreen: , tancapkan bendera indie salah satunya:mrgreen:

    utopis bukan berarti tampa kerja keras kan😉

    kalau anda mengecap semua band mayor adalah sampah….

    lalu gimana dengan S.I.D?

    gimana dengan Sex Pistols?

    gimana dengan Pas Band?

    perlu di bold, gw tidak pernah mengeluarkan statement seperti itu, lo sendiri kan yang membuat pernyataan seperti itu?😉

    hmmmmm… sebenernya gw bukan cecunguk tapi begundal😆

  17. 17 mylongjourney
    Minggu, 28 September 2008 pukul 12:04 pm

    @ om erick
    yah…om…bulan romadon gini masiii aja cari2 lawan..

    @om nuran
    secara jujur saya akui saya gak ngerti apa2 masalah sejarah…saya juga gak berusaha mencari referensi…jadi cuman mengamati adu komentarnya aja..

    tapi boleh donk saya tembak langsung karena anda “menyinggung” masalah punk dan “lifestyle”..
    apa ada yang melarang punk dijadikan lifestyle? pikiran manusia kan lebih hebat daripada sekedar aturan, jadi sah2 saja saya rasa kalau ada orang yang berpendapat.

    kalau anda “menyinggung” kata update, apakah masalah yang terjadi sebelum “update” itu sudah selesai? belum kan? mau tau kenapa? karena yang diskusi itu MANUSIA…akhirnya semua orang pulang dengan jawaban sendiri2 dari diskusi itu dan tidak ada kesesuaian pendapat..jadi buat apa diskusi ?? (saya juga bingung)

    salam kenal ya om…

  18. 18 sulis
    Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 11:05 pm

    bwt q band” yg kyk gtu tu bgs pa lg klo mreka pke rok mini atau gk daster………………

  19. Senin, 20 Oktober 2008 pukul 8:22 pm

    @ my long journey

    saya masih 20 tahun, jadi jangan panggil om, hehehe…

    anda bilang :

    “apa ada yang melarang punk dijadikan lifestyle? pikiran manusia kan lebih hebat daripada sekedar aturan, jadi sah2 saja saya rasa kalau ada orang yang berpendapat.”

    uhmm… saya bukan anak punk. seharusnya anda lebih pantas menanyakan hal itu pada pemilik blog ini yang sepertinya anak punk🙂 tapi saya akan coba jawab🙂

    kalau anda nanyain masalah punk dan lifestyle… uhmmm… sebenarnya manifestasi dari punk itu sendiri apa sih? kalau anda nanya ke saya, saya akan jawab bahwa punk adalah gerakan anti kemapanan dan melawan yang namanya mainstream…

    jadi lucu saja atau bahkan ironis kalau zaman sekarang punk hanya dijadikan sebagai lifestyle. karena orang2 seperti itulah, punk sekarang seakan2 menjadi gerakan lawak dan para punker seakan menjadi segerombolan badut.

    punk is not about style!

    kalao mau tahu diskursus dan pembahasan masalah punk, baca aja buku2 Dick Hebdige tentang subkultur punk…

    saya ada juga beberapa tulisan dan wawancara dengan band2 punk…

    ini linknya:

    http://nurannuran.wordpress.com/2008/06/02/punk-%e2%80%9cdecision-to-be-different%e2%80%9d/

    trus

    http://nurannuran.wordpress.com/2007/10/27/kitamereka-dan-punk%e2%80%a6/

    dan

    http://nurannuran.wordpress.com/2008/03/28/gerilya-bawah-tanah-eksistensi-diantara-himpitan/

    monggo dibaca dan mari kita berdiskusi lagi…

  20. Kamis, 30 Oktober 2008 pukul 10:11 pm

    memang banar cowok ngk leh cengeng nti malah malumaluin negara kita ter cinta

    “MY LIFE,MY ADRENLINE.MY LIFE,MY PUNK”

    hidup 4Nak Punk INDONESIA

  21. Sabtu, 17 Januari 2009 pukul 11:02 am

    lAki2 Kuk CenGEnG…..!!!

    gK PnTeZtW gK….
    MaSA` bkAlN JaDI IMAM kuK cEngEng….!!

  22. 22 Njdir
    Sabtu, 31 Januari 2009 pukul 5:14 pm

    wahh benci banget gw kalo masalh pelajaran sejarah gini, buat gw yang penting sie gak ada yang nyenggol gw, asal pagi masih bisa ngamen malem masih bisa mabok menurut gw sie asik2 aja, wkwkwkwk……piss semuanya, let’s oioioi drunk!!!!

  23. Senin, 2 Februari 2009 pukul 11:35 am

    asal pagi masih bisa ngamen malem masih bisa mabok menurut gw sie asik2 aja, wkwkwkwk……piss semuanya, let’s oioioi drunk!!!!

    😆
    tuh mah preman juga bisa,
    pelajaran sejarah ntu yang ada majapahitnya😆

  24. 24 soulfull
    Jumat, 13 Maret 2009 pukul 3:24 pm

    asal pagi masih bisa ngamen malem masih bisa mabok menurut gw sie asik2 aja, wkwkwkwk……piss semuanya, let’s oioioi drunk!!!!

    Naah ini punk yang dikenal masyarakat…terlepas idealisme om erick dengan punknya. Ini tugas mas erick untuk meluruskan generasi punknya…silahkan buat tulisan-tulisan yang memperbaiki lifestylenya punk. Tulisan-tulisan yang gak penting dan gak ada gunanya (hanya pelampiasan semata) seperti ini sebaiknya dikurangi ^_^

    Piss

  25. Sabtu, 14 Maret 2009 pukul 4:59 pm

    @ soulfull

    asal pagi masih bisa ngamen malem masih bisa mabok menurut gw sie asik2 aja, wkwkwkwk……piss semuanya, let’s oioioi drunk!!!!

    Naah ini punk yang dikenal masyarakat…terlepas idealisme om erick dengan punknya. Ini tugas mas erick untuk meluruskan generasi punknya…silahkan buat tulisan-tulisan yang memperbaiki lifestylenya punk. Tulisan-tulisan yang gak penting dan gak ada gunanya (hanya pelampiasan semata) seperti ini sebaiknya dikurangi ^_^

    Piss

    wew thanks atas kritiknya brur !

  26. 26 jhony ramsoy
    Kamis, 7 Mei 2009 pukul 1:52 am

    klo w sih..yg pnting ANTI AHMAD DHANI..itu ja dah bkin hidup w puas bgt

  27. 27 rockabilly boyz
    Kamis, 30 Juli 2009 pukul 9:35 pm

    banyak band2x baru bermunculan dan sangat membosankan . . .

  28. 28 audy
    Rabu, 30 Desember 2009 pukul 11:17 pm

    tenang om km dukung……..
    yang penting punk tdak mati…..
    dri pda yang laen ska njiplak…
    truslah berkrya om….

  29. 29 Anonim
    Minggu, 10 Januari 2010 pukul 9:02 pm

    punk bukan skedar mode anjink

  30. 30 beiy... predator
    Minggu, 7 Maret 2010 pukul 1:11 pm

    sy sangat anti dengan lagu cengeng yang merintih pada kepedihan dan seakan menyesali kehidupannya
    marjinal buat ku suatu simbol yang tidak hanya melawan milyter namun juga sebagai simbol laki laki yang jantan
    katakan dengan keras NOOO lagu melow…….. . . . . anjing tai kucing ]]]] huakakakakakakakakakak

  31. Minggu, 7 Maret 2010 pukul 1:17 pm

    buat ku marjinal adalah sebuah simbol yang tidak hanya melawan mileter namun juga sebuh simbol seorang cowok yang anti cengeng katakan tidak untuk lagu melow ……
    utuk para melowis hanya bisa merintih pada kepedihan hidup yang sangat CENGENG ‘ ‘ ‘ ‘]]
    ANJING TAI KUCING HOHOHOHOHO

  32. 32 RoHid
    Selasa, 30 Maret 2010 pukul 8:28 pm

    Bettulll sekali….
    yang namanya laki2 itu harus Gentle Man Seperti kata MARJINAL dalam lagunya CINTA PEMBODOHAN !!!
    dengernyapun lagu cengeng membuat Otak Dan Mental seperti kaleng Rombeng,.,.,., TrenTengTeng….
    I LOVE ROCK AND OTHER HARD MUSIC BANDS, like JAMRUD, MARJINAL, DRAGON FORCE, NETRAL, TIPE-X, and etc…

    I LOVE YOU ALL………

  33. Minggu, 18 Juli 2010 pukul 9:48 pm

    kmi sbagai anak punk ingin menindas rakyat kecil………..
    anti emo……………….
    sebab emo anak bencong……..

    q erwin ber trima kasih ama anak punk
    karna dia slalu kuat dan ingin menindas tikus

    salam oi…..oi……oi

    PUNK ANTI EMO

  34. 34 padex punk
    Kamis, 17 Maret 2011 pukul 1:24 pm

    @erwin…. salam punk
    semangat tiggi

  35. 35 nery bastard
    Jumat, 23 Desember 2011 pukul 7:20 pm

    sepertinya saya ktinggalan jaman ni… haha…
    mengenai perdebatan td saya masih kurang paham,,, tp whatever bwt q.. asal gk ada yg ganggu fine2 aj… “inilah kami tak suka diganggu karna lah kami tak ingin jd pengganggu”
    kalo masalah pun k aceh sperti skarang gmana coba???

  36. 36 Anonim
    Sabtu, 25 Februari 2012 pukul 2:37 pm

    po to po…………….

  37. 37 fadliee
    Rabu, 6 Februari 2013 pukul 4:12 pm

    Lagu Cengeng . FuucK \m/
    BangkiT S.I.D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  


%d blogger menyukai ini: