17
Mei
08

bekerja kera !

 

Banyak hal yang menarik waktu gw mburuh di soekarno hatta, wajah pertama Indonesia di mata international. Yup! Bandara merupakan  wajah dari suatu daerah, jika bandaranya  ancur lebur berarti wajah daerahnya  juga ga jauh beda ( misaaalnya bos ). memang  di bandingkan dengan bandara2 laen di indonesia, soekarno – hatta cukup megah, hasil dari rancangan arsitek perancis paul adreu  yang juga merancang bandara charles de gaulle di paris:mrgreen:

Ribuan penumpang dari penjuru dunia, hilir mudik mengejar waktu dan kegelisahan,dan para kuli2 itu pun berpacu mengentarkan troli2 travel bag bagi para penumpang domestik maupun international, ada yang yang mengharapkan imbalan ada yang sekedar bantuin ( tapi rata2 mengharapkan imbalan:mrgreen: yah gaji yang kecil di bawah UMR. ( system yang tidak berkeadilan ), membuat kita menjadi manusia kera, siapa cepat dia dapat! TKW/TKI datang kita embat, kata temen ku yang security. penumpang  ndeso kita nomor duakan, utamakan yang berdasi kata temenku yang bagian check in!
Lanjut….
sudah menjadi pemandangan tiap hari ketemu sohib gw  yang kebetulan di engginerring salah satu maskapai, gw tanya “ngerjain apa aja lo di department itu meng?”  biasalah pren, kanibal onderdil pesawat, jawab seenak udelnya. Ga jauh beda ma temenku yang di bagian bagasi, nah yang satu ini suka manipulasi berat bagasi walo hanya  sekilo dua kilo. yah begitulah bro lo harus punya akal untuk bertahan hidup dari minimnya upah yang lo dapat ( kata temenku tadi ), parahnya manipulasi berat data bagasi di suatu fligth bisa berakibat fatal, masih ingatkah kita akan kecelakaan pesawat mandala di medan yang menewaskan seluruh penumpangnya, ternyata penyebabnya adalah manipulasi data berat bagasi. bayangin aja si pilot neh punya perhitungan jika beratnnya segini, maka tenaga untuk take off sekian, nah misal beratnya 10 ton di manifest ( data yang menjadi acuan sang pilot ), trus aslinya 20 ton.  nah pas take off si pilot memakai tenaga yang sekitar 10 ton itu, bayangin tiba2 pesawat oleng karena ga kuat nahan kelebihan yang 20 ton tadi,beban yang over, mesin dead akhirnya nungsep kayak mandala di polonia medan. 5 menit sesudah take off dan 5 menit sebelum landing merupakan hal yang paling riskan dalam suatu penerbangan.

Hari2 terus berganti dan para sohib ( temen ) semangkin banyak yang di pecat dengan alasan yang tidak jelas. Hahaha dengan santai sang manager di iklan tipi mengatakan maskapainya udah menaati peraturan yang berlaku * cangkirmuxxx *, jamsostek aja kagak dapat seperti mimpi di siang bolong.
Peraturan di buat untuk di langgar coi!
Lagi2 sohib2ku yang jadi kera, udah nasib kali yaa, wajar saja mereka menuntut haknya😉

para pekerja kera itu mendapat upah yang sangat rendah,sebenarnya standar gaji itu, sangat menentukan kinerja kerja seseorang ( percaya ga ?😉 ). Dan tentunya keselamatan para penumpang lebih penting dari sekedar profesionalitas, masih inget aja gw ma seorang bapak mbaca doa komat kamit di samping gw dua jam penuh selama penerbangan Jakarta – bali, sampai kapankah dunia penerbangan kita menciptakan kondisi “fear factor”seperti ini? jawabannya ya hilangkan saja para “pekerja2 kera” ini dengan cara memperlakukan  mereka lebih manusiawi ! ga mahal kok pak ! ketimbang biaya yang harus di keluarkan untuk nyewa pesawat bekas atau beli suku cadang palsu.


12 Responses to “bekerja kera !”


  1. Sabtu, 17 Mei 2008 pukul 10:59 pm

    Masalah kecilnya gaji yang berdampak tidak tercukupinya kebutuhan hidup memang kadang membikin orang untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sedikit tambahan uang dapur dan tanpa berpikir panjang bahwa itu sangat berisiko tinggi bagi keselamatan orang banyak , seperti yang sampeyan contohkan diatas, penganibalan ordeldil pesawat sampai memainkan bagasi yang dapat mengakibatkan mengkis-mengkisnya pesawat akibat kelebihan muatan .

    Saya juga sangat setuju pendapat yang mengatakan kisaran gaji menentukan kinerja seseorang (karena saya juga seorang buruh ) . Tapi terlepas dari semua itu njengkingnya moral juga sangat mempengaruhi, budaya dan juga lingkungan juga ikut andil ( wong yang laen kayak gitu, kenapa kita harus lempeng-lempeng saja..hayoo modaar terlindas:mrgreen: ). dan kalo menengok keatas yang mungkin pendapatannya melebihi gaji para pekerja kera itu, budaya seperti ini masih juga dilakukan yang membedakan tentunya besaran nominalnya tentunya lebih besar .

    Waah kok jadi berpanjang lebar…mari diminum kopinya😆

  2. Minggu, 18 Mei 2008 pukul 7:53 am

    yach itulah bro…….
    kaLo ngandalin gaji mana cukup????

    mau ndak mau harus sedikit “kreatif”😀

    *pengalaman pribadi*

  3. 4 mylongjourney
    Minggu, 18 Mei 2008 pukul 9:38 am

    satu lagi potret kehidupan buat mendampingi ratusan juta potret yang buat hati miris….

    kapaaan ya nasib berubah…

    kapan kapan🙂

  4. Minggu, 18 Mei 2008 pukul 11:29 am

    @regsa

    pisang gorengnya di tambah sa:mrgreen:

    @ironepunx

    nah pengalaman pribadi apa hayo ?

    @mylongjourney

    dan seribu harapan yang kandas…….

  5. Minggu, 18 Mei 2008 pukul 4:22 pm

    Saya juga sangat setuju pendapat yang mengatakan kisaran gaji menentukan kinerja seseorang (karena saya juga seorang buruh ) . Tapi terlepas dari semua itu njengkingnya moral juga sangat mempengaruhi, budaya dan juga lingkungan juga ikut andil ( wong yang laen kayak gitu, kenapa kita harus lempeng-lempeng saja..hayoo modaar terlindas:mrgreen: ).

    Regsa benar…

    Saya mbaca ini jadi ingat di Aceh sini alasan utama gaji pekerja di BRR yang ngurusin Aceh paska tsunami itu tinggi2 benar. Dosen biasa yang kerja di situ bisa mencapai kisaran 10jt/perbulan.

    Apa iya korupsi ilang? Apa iya budaya sikut sana-sini dan terkam dengan rakus ilang?

    Tidak.

    Moralitas per individunya yang sudah bejat duluan membuat manipulasi tetap terjadi

    *sigh*

  6. Minggu, 18 Mei 2008 pukul 8:05 pm

    Ikut nimbrung hari minggu. Ah kalau ngomongin soal gaji ampiun…deh besar pasak daripada tiang.

    Coba tanya yang lain gali lubang, tutup lubang Nasibbbbbbbbbbb

  7. Senin, 19 Mei 2008 pukul 1:32 am

    Gimana bisa bekerja dengan baik kalo perut masih keroncongan?

  8. Senin, 19 Mei 2008 pukul 4:14 pm

    @alex

    betul aku juga setuju dengan pendapat sampeyan….
    moralitas sangat penting untuk membangun suatu kemajuan yang struktural dengan pondasi SDM yang kuat, dan ini harus di dukung ma SDM2 yang berada diatas system dan yang membuat system, serta yang menjalankannya:mrgreen:
    biarpun mobilnya bagus tapi sopirnya ugal2an ya sama aja😉

    @bali sugar

    ibarat penumpang transit:mrgreen:

    @juliach

    nah ini salah satu faktor yang menjebak kita agar labih “kreatif”😆

  9. 10 mylongjourney
    Jumat, 23 Mei 2008 pukul 9:14 am

    bang eriickkzzz….

    kapan hari pembalasan itu datang?

    apakah salah slogan “kerja pangkal kaya” ???

  10. Selasa, 11 November 2008 pukul 9:03 pm

    mikiri gaji, cari kerja aja sulit brooo

    jdi sukuri aja apa yang ada

  11. Senin, 30 Maret 2009 pukul 2:07 pm

    itulah nasib buruh,kerja keras tp dibayar murah hingga anak tak bisa sekolah,untuk itu kita harus kreartif dalam artian kita harus berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan uang yang lebih banyak tanpa merugikan orang lain,bingung gak lo,ya mesti bingung lah,…………………………………………………………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  


%d blogger menyukai ini: