03
Mei
08

LOKALITAS VERSUS GLOBALITAS

 “Duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.” Demikianlah petuah seorang guru di sekolah puluhan tahun yang lalu, yang menjelaskan kedudukan kita di antara bangsa-bangsa di dunia. Inilah nasionalisme paling sederhana dan gampang diangankan pada masa remaja; masa ketika adpertensi dan televisi belum segemuruh sekarang. Waktu terus berjalan. Kita memasuki Melenium Ketiga, yang ditandai dengan era globalisasi ekonomi dan informasi. Anak-anak kota besar suka keluyuran di shopping mall dan makan Mc Donald tapi di sekolah menerima tentang kepahlawanan Diponegoro dan Soekarno. Di desa, timbul kegemaran luar biasa terhadap sinetron dan Indonesia Idol yang mengadopsi American Idol dari negeri Abang Sam.


Produk-produk mancanegara kian marak di pasar. Kita berlomba-lomba mengonsumsi, agar tampil gaya dan kosmopolit. Gempuran benda dan citra asing itu merata, dahsyat dan belum selesai,menyerbu segala pelosok negeri kita dan menjungkirkan balikkan nilai-nilai keluarga. Lihatlah, tampilan busana anak-anak muda yang seturut dengan tampilan anak-anak muda di New York atau London. Seorang remaja di Jakarta kini memakan kudapan atau membaca majalah yang sama seperti para remaja di Milano atau Los Angles. Inilah globalisasi!
Landasan keindonesiaan, atau kebangsaan, makin diguncang oleh industri citra. Namun siapa pun yang digempur oleh industri citra sedunia tak dengan sendirinya berwatak kosmopolit. Yang paling gampang dan paling nyata terjadi adalah skizofrenia, keterbelahan jiwa. Jiwa yang utuh hanya ada pada sebuah lingkungan budaya yang murni dan tertutup. Kini, kita tak mungkin hidup dari dan hanya pada sebuah lingkungan budaya. Di zaman ledakan industri media, berbagai lingkungan budaya mendatangi, menyerang kita.
Banyak orang, merasa leluasa hidup dalam sebuah nasionalisme kebudayaan. Sebab negara tak lagi dirasa menjalankan diri sebagai pengatur, tetapi pelindung rasa aman (sampai ke tingkat RT). Perlahan-lahan rasa aman atau pendekatan ‘keamanan’ itu terlembaga dalam bentukan keluarahan/desa, seraya menyepelekan keragaman institusi lokal seperti nagari, desa adat, kampung, marga, dan lain sebagainya, yang telah ratusan tahun mengelola sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Dalam hal ini, kita boleh mempertimbangkan alasan sejarah sendiri. Kolonialisme Belanda tak mampu atau tak hendak menularkan langsung Eropa ke negeri jajahannya. Tak ada prestasi budaya, intelektual, keilmuan Eropa yang dalam waktu cepat mencapai Hindia Belanda. Hindia Belanda begitu terisolir dari gerakan mutakhir modernisme Eropa. Sebaliknya, Belanda berhasil menanamkan , memperluas dan melembagakan romantisisme dan meyakinkan kaum terpelajar (terutama elite pergerakan) bahwa itu budaya tinggi Eropa. Itulah sebabnya nasionalisme kita berwatak semangat romantik. Di lain pihak, Belanda dengan lihainya membangun mesin birokrasi modern dengan memanfaatkan kultur feudal pribumi. Feodalisme bukannya habis menjelang modernitas, tetapi jadi faktor pemersatu yang signifikan dalam membentuk masyarakat modern di Indonesia.
Gerakan reformasi yang menjungkalkan rezim Orde Baru, diiringi dengan diberlakukannya otonomi daerah di Indonesia. Beberapa daerah mulai mekar menjadi propinsi, kabupaten, dan kotamadya baru. Semangat lokalitas hadir menggebu-gebu kadangkala ditingkahi pekikan separatisme (gertak sambal). Semangat pada nilai-nilai lokalitas inilah yang mendorong orang mencari karakter asali atau nilai kedaerahan seperti terjadi pada kota Ujung Pandang berubah nama menjadi Makassar. Semangat romantisme ini menjelma pada posisi tawar daerah dalam mengelola Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga menerbitkan perundang-undangan, sebagai proteksi atas budaya lokal yang kian tergerus oleh arus besar globalisasi dunia. Lokalitas versus globalitas kini bagaikan dua gajah yang tengah bertarung, di medan kebudayaan.
(ska)

sumber www.koran-marjinal.blogspot.com


21 Responses to “LOKALITAS VERSUS GLOBALITAS”


  1. Minggu, 4 Mei 2008 pukul 4:56 am

    banyak yang bilang bahwa anak-anak punk anti kemapanan,tapi pada kenyataannya jauh dari yang didengungkan kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan ini benar atau salah karena banyak anak-anak punk sekarang udh pada pakai kendaraan sendiri kalau memang benar bahwa prinsip punk anti kemapanan kenapa di kalangan komunitas punk harus memkai yg bersifat lux cnth kasus banyak d kalangan komunitas punk udh punya motor,mobil dll berarti pada dasarnya punk bukan anti kemapanan

  2. Minggu, 4 Mei 2008 pukul 11:15 am

    @alonk

    mencintai sesuatu bukan berarti, harus kopy paste mentah2 ini kembali ke self defense masing2 bro, ketika lo membuang ludah gw yakin siapapun akan malu menelan ludah sendiri. anti kemapanan bukan suatu yang sulit untuk di jalankan, menurut gw anti kemapanan adalah suatu yang ideal ketika lo di hadapkan pada harta yang melimpah hasil korupsi, bagi gw tafsir anti kemapanan seperti itu.
    bukan anti ini anti itu secara pakem. semua ada sebab akibatnya bro dan standar anti kemapanan bukan harus F**k teknologi. tetapi kembali ke self defense masing2 bro.
    btw thanks udah maen ke blogku:mrgreen:

  3. 3 azaxs
    Minggu, 4 Mei 2008 pukul 11:34 am

    Postingan menarik mas,
    Sampai kapanpun “dua gajah” ini akan terus bertarung…
    Suatu konsekuensi logis ketika masuk “gombalisasi” dan kapitalisasi….
    Dunia seakan sempit dan tempat bagi “gajah lokal” akan semakin terjepit… kecuali kesadaran massif untuk memfilter “gajah global”, tapi kayaknya suatu uthopia…

    Salam

  4. Minggu, 4 Mei 2008 pukul 4:43 pm

    lokalitas vs globalitas… globalitas bisa menggerus habis nilai nilai lokal bila nilai nilai lokal tidak dipelihara, tapi globalitas juga bisa memperkaya nilai nilai lokal misalkan budaya disiplin, budaya efisien dst, budaya antri, dsb. sebaliknya, nilai nilai lokal juga bisa diglobalkan, bila kita mampu menampilkannya, misalnya, seni seni lokal, batik, musik tradisional.

  5. 5 kang4roo
    Minggu, 4 Mei 2008 pukul 7:46 pm

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SITUS “Leoxa.com”
    (Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

  6. Senin, 5 Mei 2008 pukul 12:10 pm

    @azaxs

    utophia yang harus di hilangkan mas:mrgreen:

    @sahatmrt

    kolaborasi yang harmonis😉

    @kang4roo

  7. Senin, 5 Mei 2008 pukul 6:19 pm

    pinter2 manusia nya aja menghadapi era globalisasi ituh…😀

  8. 8 beh
    Selasa, 6 Mei 2008 pukul 10:27 am

    spirit punk is the best
    sekarang ma yang banyak cuman mode ajah….

    smua tau spirit pank is the best ,,, meski gak harus mohak

  9. Selasa, 6 Mei 2008 pukul 11:54 am

    @cempluk

    yup ! betul sekali😉

    @beh

    punk = pemuda urakan nan kreatif * marjinal *🙂

  10. Senin, 12 Mei 2008 pukul 12:05 am

    aha!! aku ada ide tentang local vs global.. gimana kalau kita mulai dengan bertindak secara lokal dan berfikir secara global… seperti yang dikatakan temanku saat demo hari bumi.. nggak dhiong maksudnya..

  11. Senin, 12 Mei 2008 pukul 11:56 am

    @ardianzzz

    kalo di balik gimana bertindak secara global dan berpikr secara lokal?
    yah tergantung niat aja kali ya
    btw di mulai dari diri sendiri aja udah cukup:mrgreen:

  12. Selasa, 13 Mei 2008 pukul 8:12 am

    @ujang di ip address : 125.163.25.40

    mungkin lo di lahirkan untuk menjadi pengecut sangat jelas lo kehabisan akal ato emang lo ga punya akal, begaya komen anonym trus lari tunggang langgang bagai pengecut, gw minta dengan hormat kalo lo emang laki2 minimal lo cantumin alamat email lo biar debat ini makin cerdas!

  13. 13 mylongjourney
    Kamis, 15 Mei 2008 pukul 1:30 pm

    Hi kawan,,,lagi blog walking neh..numpang komen yah..

    heran juga ya anak punk bisa ngomong secerdas ini, no offense..its true..i admire your article…memang harusnya punya bekal yang cukup untuk bisa melawan “kemapanan”

    Peace

  14. Kamis, 15 Mei 2008 pukul 7:40 pm

    @mylongjourney

    hahaha saia ga cerdas bro😆

  15. 15 mylongjourney
    Sabtu, 17 Mei 2008 pukul 10:19 am

    Bang Erickzzz..

    Ah..perasaan “Dik” Erickzz sajah…wekekeke

    Gludak..

    salam kenal aja dah..blognya ajus

  16. Sabtu, 17 Mei 2008 pukul 11:20 am

    @mylongjourney

    santai aja bro:mrgreen:
    somebody need a suspect😆

  17. Selasa, 12 Agustus 2008 pukul 7:48 pm

    Apakah seorang anak punk harus berpenamopilan yang norak ?………..

    DARI Q AREK2 SRAGEN*****

  18. Selasa, 12 Agustus 2008 pukul 7:55 pm

    Apakah arti dari punk?………..Dan mengapa harus ada punk di dunia ini,barasal dari mana punk itu?

  19. Minggu, 21 September 2008 pukul 3:46 pm

    sebagai penghuni bumi, globalisme memang suatu hal yang tidak bisa tidak harus kita hadapi. sama seperti pendapat di atas, tinggal pinter-pinternya kita aja.

    oh ya bos, bagaimana dengan pendapat saya ini:
    http://grubik.wordpress.com/2008/08/09/we-did-id-our-way/

  20. Selasa, 11 November 2008 pukul 8:10 pm

    kenapa anag anag punk identik dengan rambut MOUHAK ?
    dan juga , kenapa lebih banyak d kalangan pengamen ?

  21. Senin, 6 Juli 2009 pukul 8:34 pm

    salam anak pnk yg da di sragen.sori lg bls???karena anak punk dadanan rambutya mouhak.karena kan anak punk penampilanya gitu…….trs ank punk yg ngamen???yg jalas kl ngamen.karena anak punk pemhasilanya yg dari situ..trs tidur ja di pinggir jalan-jalan.aku anak punk dari masaran


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  


%d blogger menyukai ini: