pokoknya edisi sekarang bahasanya tentang musik ( cenderung ke idealisme movement ) . maklum nyang punya blog hobinya musik dan sudah menjadi hal yang klasik jika hobi seorang blogger kadang tercermin di isi postingannya
manusiawi banget khan?
kali ini gw pengen ngebahas tentang pentingnya berindie ( ngeband dengan cara indie ). karena dengan berindie sudah mencerminkan sikap kemandirian kita dalam bermusik. namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sampai di mana daya tahan suatu band dalam berindie? pertanyaan yang sangat penting terhadap eksistensi dalam brindie movement .
bahasan faktor – faktor pendukung dalam ngeband secara indie ( indipendent ) adalah sebagai berikut :
1. komitment awal.
hal ini penting jika kita akan menentukan kemana arah band kita, karena banyak band2 yang rontok ketika mereka tidak mempunyai komitmen dalam menentukan arah pergerakan band mereka. sehingga arah mereka ke depan semakin tidak jelas dan akhirnya tenggelam dengan sendirinya ( seleksi alam ). hal ini sudah lumrah karena banyak dari anak2 band tidak berani ato hanya sekedar ” having fun aja “ untuk memberikan dispensasi atas keraguan mereka terjun langsung di dunia indie ( totality ).
2. keterbatasan infomasi tentang indie network soceity movement.asumsi gw bahwa band2 indie harus punya jejaring pergerakan indie yang bukan saja berbasis di habitat mereka saja tapi yang lebih di butuhkan adalah bagaimana akses infomasi dan kerja sama dengan band – band indie kota lain bisa lebih bagus dan kuat sehingga akan tercipta indie network soceity movement yang tumbuh dan berkembang. dan akses tentang jejaring pergerakan indie ini harus di butuhkan oleh band – band indie movement baru untuk memperkuat movement mereka. sehingga band2 indie ini sudah bisa menjadi mainstream sendiri yang bukan mengkrucut ( terpusat ) tapi lebih kepada jejaring sub – sub comunity indie yang saling berinteraksi dengan network soceity yang lainnya dan tetap dalam movement. pergerakan band indie ini bukan pergerakan secara radikal oleh person/sub comunity saja yang hanya menjadi tren2 sesaat sebagai batu loncatan menuju major label. tapi merupakan manifesto resistan terhadap major label dengan penyeragaman karyanya. jejaring ini bisa sangat membantu anak2 band indie dari sabang sampai merauke dalam membangun komunikasi mereka yang interaktif.
3. keterbatasan materi/uang.
sudah menjadi masalah klasik, bahwa materi/uang sangat berpengaruh dalam ketahanan sebuah band indie. hal ini cenderung ke kebutuhan primary band, seperti kebutuhan akan home band, home recording. home band dan home recording merupakan kebutuhan penting tampa mengenyampingkan kebutuhan2 yang lain. karena kedua hal itu merupakan dapur pacu dalam menciptakan karya dan kreasi. tapi kedua hal itu bukan merupakan syarat mutlak untuk membentuk sebuah band indie.
4. kekompakan team.
kunci sukses dari eksistensi sebuah band adalah kekompakan kerjasama internal team dalam menentukan arah selanjutanya. kuatnya suatu band adalah daya tahan mereka dalam memecahkan masalah secara team. masalah sebesar apapun jika di selesaikan secara kerjasam team ( the power of team ) maka akan terselesaikan dengan baik dan efektif. seorang leader juga di butuhkan dalam sebuah band.
5. semangat.
tugas musisi adalah berkarya, yang penting berkarya apapun bentuknya dan karya yang di hasilkan. banyak musisi yang jatuh ( down ) ketika karya2 mereka tidak di hargai di lingkungan mereka .sehingga proses kreasi dan daya cipta pun terhenti sampai di situ, dan mencari jalan pintas dengan menyebut bahwa ngeband bukan tujuan hidup mereka. ini merupakan kemunduruan menurut gw karena kita berkarya bukan untuk mencari nilai berdasarkan kuantiti semata tapi lebih kepada hubungan estetika antara kita dan karya yang kita hasilkan. kerja dan ngeband khan bisa sejalan? seorang anak band ga musti yang hidup di musik mulu. seorang dokter pun bisa jadi anak band indie, why not? di sanalah letak kebebasan berindie dari pada ber major label ( indie is freedom ). indie band bukan milik satu kalangan saja,semangat dalam berindie sangat di perlukan sebagai bahan bakar untuk proses yang lebih baik lagi untuk menghindari wacana penyeragaman selera.
banyak dari kita termasuk gw, menganggap bahwa major label sekarang identik dengan band2 cengeng. itu memang benar, tapi ada hal yang tidak kalah pentingnya bahwa sejatinya major label merupakan bentuk industri movement mainstream yang beroreantasi ke profit ( profit oriented ). sehingga mereka akan terus bergerak secara di namis mengikuti selera pasar. jadi saat ini mungkin saja mereka menggandeng band2 pop melow sebagai kawan bisnisnya.tidak menutup kemungkinan jika suatu saat kebutuhan pasar berubah, maka secara dinamis major label akan terus berinovasi dan mengikuti selera pasar tersebut. hari ini mereka menjadi identik dengan band2 melow, bisa saja dua puluh tahun lagi mereka identik dengan musik metal ( karena selera pasar ) . dan pada saat itu sub budaya musik melow sudah menjadi jombie ( tidak di butuhkan pasar lagi ) dan mereka menjadi resistan sama seperti band2 underground movement saat ini. semua bisa saja berubah dan menjadi kebalikan. so coba pikirkan?
jadi indie movement terbuka untuk semua genre ( semua jenis musik ). mau metal, pop , emo , punk , hardcore , skin , keroncong , gotich, campur sari , reggae, hip hop, etc etc semua bisa di kondisikan dalam suatu movement. karena nilai dari jiwa indie sendiri adalah budaya counter culuter yang lahir karena semangat penolakan terhadap penyeragaman karya. major label dan indie label merupakan musuh abadi sekaligus rival yang saling membutuhkan. membutuhkan karena indie resistan dari major, tampa major tidak ada indie. tergantung kita di posisi mana sekarang. dan pentingnya kita berindie dan menanamkan semangat ke indian kita agar proses kreasi dan keragaman karya dapat terjaga dan menjadi berimbang.
indie is freedom !
info tentang indie movement bisa juga dapat di :


















wan minta ijin linknya
weits… idealismenya mantap! tapi, realistis aja bro… orang hidup buat cari makan… cari makan ya bisanya pake duit… kenyataannya, meninggalkan jalur indie dan masuk ke major label ternyata punya probabilitas yang lebih gede buat dapet duit lebih banyak… hehe…. gw mah terserah, mo indie kek, major label kek… yang penting menghibur… toh, gw hanya penikmat musik doang
kalo mayor label itu profit oriented, masuk mayor labelnya pas album indienya udah banyak aja
jadi istilahnya casing mayor, tapi content indie
+ kualitas sound setelah masuk mayor bakal meningkat (nilai lebih untuk yg beli album)
@ ichanx
thanks brur duit emang perlu, tapi jangan sampe mengorbankan prinsip kita mungkin ini pilihan yang lebih bijaksana aja
@ 47isdead
terdengar mirip cashing HP ( hand phone
) ya?
hahahahahaha……go go indie movement…
rick minta doa restu dan bantuannya rick….
saia punya rencana mau bikin pamflet localindie buat di sebar di lombok.
Saia mau fokusin localindie buat tempat promo band2 indie lombok.
Sudah saatnya band indie movement lombok di dengar orang secara luas.
Sebarin ke temen2 band lainnya perihal ini *halah….perihal ini*
Kita gak menarik bayaran sepeserpun buat band-band indie yang pengen masukin profilenya di localindie,karena memang konsep kita D.I.Y.
Cukup meyertakan profile lengkap band+demolagu kalo ada video klip juga boleh.
Go Go Go indie act lombok
bener tuh kata Om Ichanx.. sekarang Dri ngga main band lagi gara” kebanyakan maunya indie… jadi males deh.. dah gitu maunya beda” susah deh.. hihihihi… lam kenl ja ya fren.. ^^
Tapi saya masih heran, kenapa selera musik masyarakat kita khususnya ABG cenderung saling ngekor ya? Saya kangen dengan atmosfer industri musik kita era 80-90an. Begitu beragam genre musik yang mewarnai industri musik kita.
@ ironepunx
go !! inde act lombok ane dukung wan , salut buat nte
btw sebotol dua botol * teh * aja wan buat band2 yang pengen join di localindie.com
@ andri
lam kenal juga pren
@ goenrock
betul generasi bebek saling ngekor
masuk major label untuk tuntutan hidup….its OK bro.
tapi dengan catatan tanpa meninggalkan idealisme musik asli mereka.
Untuk hal ini saia salot buat Superman Is Dead.
Coba anda semua tengok band MATTA yang lagunya *sumpah* cengeng abis.
Pada jaman dulu vokalis MATTA adalah dedengkot musik GRUNGE bandung yang bener2 idealis,tapi lihat skarang???
Kalo buat saia pribadi uang memang perlu,tapi kalo seandainya disuruh melepaskan embel-embel idealisme saia. Maaf saja!!!!
@erick
itu bener2 teh kan rick,bukan teh dalam tanda kutip kayak “waktu itu” kan
Bener kata mas Ironepunx.
major label gapapa yang penting idealisme tetep dijaga!
maju musik indie Indonesia!
salam kenal buat mas erick..
@ paunk
setuju…..
salam kenal juga
namanya indie, berdiri sendiri,lebih bebas menyuarakan karya tanpa pesanan2 dari pihak laen tentuya lebih enjoy dan bebas .
Jadi pengen ngeband, tapi ngak bisa maen alat musik dan suara saya jelek . Ah.. ngeblog saja kalo begitu . Tapi saya ndak punya hobby, padahal empunya blog ini bilang katanya hobi seorang blogger tercermin di isi postingannya .
ah sudahlah
:melenggang pergi:
SALAM BUAY SEMUA KOMUNITAS INDONESIA
BUDAYAKAN ANARKITA
hantem terus jack. No anarchy no chaos. Keep punks
Wah mulai idealis ya,
nah, ini saya setuju banget,
alkisah saya pernah punya band yang saya harepin buat nyokong materi dana saya kelak, karna saya bikin band poprock yang material lagunya adalah KOMERSIALITAS bukan seperti band saya jaman smu Schyzophonic yang notabenenya adalah maenin PRND (PUNXROCK NEVER DIE) but actually, semua orang dalam kelompok ini menyalahi aturan maen yang udah ditetapkan bersama2, kita komit awal ini adalah band jualan, jadi cukup ngikutin rotasi penjualan lewat cara2 klasik, seperti ninggalin 1 single di tiap pc di warnet, masukin ke radio, sebarin di hape orang2 dan Insya Allah dijamin orang bakalan ngebet sama album dan nspnya walaupun cara kita jualan albumnya adalah dengan menitipkannya di toko2 cd bajakan ! dan jual nsp via provider dengan dispensasi harga yang Nauzubillah Minzalik, whatever kembali ke porsi omongan awal, anak2 pada berubah haluan ditengah jalan, their fuckin’ love about popularity, ketumbenan kali yah dikenal sama orang jadinya pengen banget untuk terus unjuk gigi dan manggung, sementara tau sendiri biaya manggung dimataram yang keluar tuh kita bukan eonya karna kita kudu latian di studio, berkali2 bahkan, ah stupid asshole ini semua jadi unpredictable, their fuckin stupid ability is fuckin’ damn, bener2 susah bergaul ama anak POP yang negjernya cuman lubang ! *emosi* ahahaha
@katlea
udah pak…udah tua gak usah pake acara emosi
se POP apapun dirimu tetep mentok RISE AGAINT….
udah…..dibalik layar aja skarang
tolong upload lagunya anak2 sayap, supaya qta bisa download dan dengerin lagu anak2 sayap…. plz ya…..
bnr punk trus mju pantang mundur
indie movement memang merupakan salah satu alternative untuk
mengisi kebosanan kejenuhan dan segala kemuakan akan musik saat ini
dan mencoba memberikan something new yang benar2 segar
dan bukan hanya meniru tren saja
yang memang akhir2 ini luar biasa gemanya
hingga tiap hari banyak acara gig local yang tak pernah sepi akan crowdnya
namun tidak bisa pungkiri
banyak diantara teman teman kita
berbondong bondong membuat band dengan basis mengatas namakan indie
tapi kurang tau apa itu indie yg sebenarnya
ini adalah suatu ironi tersendiri
seperti duri dalam daging scene indie sendiri menurut saia
karena menurut saia indie terbagi menjadi 2sub tersendiri
yaitu indi yang dalam konteks budaya tanding (counterculture)
basis dari antitesis (cutting egde) terhadap mainstream
dengan lingkup lebih luas
dan ada juga indie
yang hanya dalam konteks swadaya
atau karenan mereka bukan non mayor
ini untuk menunjukan band yang bergerak mandiri namun sikap maupun pola bermusik mereka tetap terpengaruh oleh pasar konvensional (mainstream)
inilah perbedaan antara indie dengan DO IT YOUR SELF (swadaya)
mungkin itu bisa memberi kita
gambaran akan suatu hal yg lebih luas lagi
terima kasih
wahhhhhhhhhh,,,,maju terus musik indonesia,,,,