In memorian….
Sebelum jejak pendapat kehidupan di timor-timur dulu sangat lah aman dan tentram.gw adalah salah satu warga Negara indonesia yang dulu lama tinggal di Negara yang baru merdeka tersebut TIMOR LESTE yang dulu bernama timor-timur.Kehidupan yang aman dan tentram adalah dambaan setiap insan,perang dan konflik hanyalah melahirkn penderitaan entah apapun itu tujuannya.begitu juga kehilangan sahabat yang di bunuh ma saudaranya sendiri karena pro kontra apakah memihak Indonesia ato merdeka lepas dari pangkuan ibu pertiwi. Sangat tragis,nyawa manusia hanya sebanding dengan batu asah untuk parang dan pedang.bersyukurlah kita sebagai anak bangsa indonesia yang hidup merdeka di tanah pertiwi walo di terpa krisi multi dimensi.Jika kita pernah menjadi pengungsi akibat perang dan koflik rasis,kita patut bersyukur karena saat ini kita masih duduk manis di depan monitor, dunia maya yang sialan ini
Gb.timor leste, pasca jajak pendapat( www.nusaku.com)


















aku cuma mau tanggapi kesaksian sahabat yang mati dalam perang saudara. berbagai peristiwa yang telah dilalui oleh bangsa yang besar yang dinamai bumi pertiwi. dari peristiwa terbantainya 7 jenderal, G30SPKI, DITII, bahkan peristiwa tanjung periok adalah rentang kisah dalam lembar bangsa yang besar ini. siapapun dia lebih suka hidup dinegerinya sendiri dan memiliki pemimpin dari pulau tersebut. tapi sayangnya bangsa yang besar ini yang terdiri dari ribuan pulau tapi hanya satu pulau yang memerintah hingga saat ini. kenapa jurang antara misikin dengan kaya di negeri ini begitu dalam? coba tenggoklah kekehidupan kaum marjinal, syukur kepada RCTI yang mengupas begitu banya kisah nyata dari anak bumi pertiwi yang tereliminasi dari modernisasi bangsa. belum lagi begitu banyak anak bangsa yang jadi budak bangsa lain yang dihina, diperkosa, disiksa bahkan dibunuh. marilah kita membersihkan kotoran yang ada dimata kita sebelum menyuruh orang membersihkan matanya
saya kira Timor Leste butuh waktu untuk menata hidup mereka yang baru. kita telah menjadikan negeri itu lautan api saat kita keluar. mereka menderita fisik dan mental akibat ulah kita. mereka cukup mampu untuk bangkit dari ketertinggalan. kekayan alam yang melimpah dengan jumlah pendukuk yang sedikit ada optimisme. tapi mengapa kita tidak mengulurkan tangan untuk merangkul mereka sebagai saudar walau dengan status negara sendiri sendiri. saya kira jika berada di negeri mereka kita tidak dianggap asing seperti bule-bule ataupun asia lainnya. perasaan sebagai satu negara dulu masih membuat cinta mereka terhadap bangsa ini tumbuh dan akan terus tumbuh jika terus dibina.