woi!!!!!!!!!!!!!!!!
rasanya kurang pas tampa marjinal di blog ini hehehe,walo gw sangat telat dari yang laen tapi yang terpenting adalah argument tentang artikel ini bisa sampai,khususnya tentang punk dari sudut pandang marjinal,karena secara visual gw belon pernah ketemu ma mereka,tapi dari pola pikir logika tentang punk ada persamaam di antara kami!!
berikut ini gw kopipes dari www.koran-marjinal.blogspot.com
tentang kehidupan sehari-hari mereka di komunitas,dan sudut pandang mereka tentang punk!
Pengantar Editor:
Agustus yang lalu, majalah TRAX membuat laporan utama “The Story So Far: 30 Years of Punk Rock”. Farid Amriansyah, reporter Trax, mengajukan beberapa pertanyaan kepada Marjinal lewat e-mail, yang jawabannya kami kira berhak diketahui publik secara utuh.
- agak klise, tapi bisa cerita bagaimana marjinal terbentuk?
Bob OI: Marjinal dibentuk 11 tahun yang silam, pada 22 Desember — bertepatan dengan Hari Ibu di kalender nasional. Sebelas tahun yang lalu, kite ketemu di sebuah kampus grafika di Jakarta Selatan. Awalnya, gue pengen kuliah, tapi makin lama semakin nggak tertarik. Apa yang dipelajari di kampus udeh kita kuasai, gue udah gape menggambar, bikin desain, demikian juga yang laen. Kebanyakan kita ketemu ngobrolin situasi di luar kampus, yang atmospherenya represif, nggak bebas mengeluarkan pendapat atau berekspresi. Lalu kita bangun sebuah jaringan namanya Anti Facist Racist Action (AFRA), yang terlibat adalah kawan-kawan yang mempunyai kesadaran melawan sistem yang fasis banget.
Kita gunakan media visual, lewat poster dari cukil kayu, baliho dan lukisan yang menggugah kesadaran generasi muda, untuk melawan sistem fasis yang diusung Orde Baru. Selain melakukan diskusi, penerbitan newsletter, dan aksi turun ke jalan… Kita secara kebetulan gape juga main musik. Ya, dengan modal gitar n jurus tiga kunci, kita maen musik, bikin lagu sendiri yang berangkat dari kenyataan hidup sehari-hari.
Mike Marjinal:Lalu kita namakan kelompok itu Anti Military. Dalam perkembangannya, Anty Military dipahami orang-orang sebagai sebuah band akhirnya… Padahal kita bukan anak band! Musik ini kan sebagai alat komunikasi kepada khalayak yang lebih luas, lebih asyik.. medium menyampaikan pesan dan jadi inspirasi untuk anak-anak di pergerakan ke depan, ketika melihat kenyataan kehidupan sosial-politik dikangkangi rejim yang fasis militeristik. Dari awal, kesadaran kita bukan sebagai anak band.
Setelah Harto digulingkan, kita melihat dimensi yang lebih luas lagi. Persoalannya bukan lagi rejim yang fasis dan rasis saja. Tapi lebih luas lagi… Negeri ini jadi negeri ngeri… Banyak tragedi, perang saudara, buruh-buruh diperas, dieksplioitasi, rumah sakit dan pendidikan begitu komersial, kereta-api sebagai sarana angkutan melayani orang seperti mengangkut binatang. So dari sistem yang fasis, anti demokrasi, terpusat dan korup.. kini menyebar ke sendi-sendi kehidupan bangsa. Kita lupa bagaimana para pejuang dulu mendirikan Indonesia sebagai sebuah nation. Indonesia kan didirikan sebagai kesatuan dari tekad para pemuda yang beragam suku, agama, latar belakang sosialnya itu bersatu membangun sebuah nation! Lalu kita ganti nama, dari Anti Military jadi Marjinal. Kisahnya, ketika Mike dapat nama Marjinal, dia terinspirasi oleh nama pejuang buruh perempuan yang mati disiksa militer,” Marsinah..Marsinah… MARJINAL” Kata Marjinal sendiri waktu itu kan belum banyak dipakai untuk menjelaskan posisi orang-orang pinggiran.
- marjinal mengangkat beragam isu sosiopolitikdalam lirik kalian. Bisa cerita
apa misi kalian sebagai band?
Mike Marjinal: Lagi-lagi harus kukatakan dari lubuk hati yang dalam, cieee: “Kita bukan anak band”. Sejak kita membangun AFRA kita memang punya kesadaran melawan sistem politik kotor di negeri ini, khususnya melawan ideologi fasis militeristik rejim Orba. Sejak menjadi Marjinal, kita kembali ke tengah masyarakat, belajar dari keseharian mereka sekaligus jadi inspirasi bagi lagu-lagu yang kita ciptakan. Lirik-lirik iitu kan mengangkat persoalan tetangga, kawan dan masyarakat kita. Kita cuma asal comot apa yang menjadi gelisahkan. Kita cuma jadi cermin, yang merefleksikan segala yang dirasakan masyarakat. Kita selama bertahun-tahun, di kolektif TaringBabi, hidup di tengah kampung Setu Babakan. Awalnya, mereka was-was melihat penampilan kita yang sangar, tapi lama kelamaan masyarakat merasa senang, karena kita ikut gotong-royong, membuat acara Agustusan, workshop sablon dan segala keterampilan cetak-mencetak. Setiap hari, puluhan anak-anak punk dari daerah mana aja datang ke TaringBabi, tapi masyarakat tidak lagi was-was. Pernah gue dengar ibu-ibu bilang,”Anak-anak itu rambutnya aja yang aneh, tapi hatinya baek….” Ibu-ibu juga nggak takut melihat tato, yang penting hatinya kagak bertato!
Dari sini kita kan bisa melihat hidup yang berwarna-warni, kita rayakan perbedaan dengan damai. Band Marjinal itu kan salah satu usaha kita berkomunikasi dengan masyarakat. Album atau kaset yang kita rilis secara indie juga diniatkan untuk membangun komunikasi. Kita nggak nyangka, Marjinal didengar sampai Pulau Siladen nun jauh di Sulawesi Utara sana. Ketika kita diundang main untuk scene punk Manado, kawan-kawan dari Kotamubagu datang, itu kan letaknya di pedalaman. Bayangkan, mereka datang jalan kaki. Ketika ketemu gue, ada yang langsung buka baju memperlihatkan tato bertuliskan Marjinal. Gue terharu, sekaligus bangga dengan semangat persekawanan ini…
Bob OI: Kita maen di mana aja, tidak untuk scene punk doang. Acara ulang tahun, perkawinan, peluncuran buku… Bahkan Mike sering bilang, acara apa pun kita main, ini ruang untuk berkomunikasidan silaturahmi, memperluas kesadaran kita sebagai nation, usaha kita saling belajar dan bekerja sama-sama. Pernah seorang guru, namanya Pak Sukri, dari STM YZA, Ciawi nyari-nyari alamat kita, nyasar ke sana-kemari, niatnya mengundang kita main untuk acara sekolahnya, karena murid-muridnya minta Marjinal main untuk acara perpisahan. Ditawari band lain, mereka nggak mau. Sebelum main, kita selalu membuat work-shop cukil kayu (wood cut). Mereka sangat antusias mencetak kaos polos dengan desain cukil kayu. Kalau ada waktu, kita bisa main di mana saja, asal kebebasan kita enggak dibelejeti. Karena dari kebebasan itu kita ada. Kebebasan yang mengatur diri kita sekaligus respect dengan kebebasan orang lain.
- Arti punk buat kalian?
Bob OI: Kita bikin desain kaos: Pemuda Urakan Nan Kreatif (PUNK). Ya, itulah tafsir kita untuk punk walau kata itu muncul pertama di Inggris dari sebuah karya William Shakespeare, The Marriage of Lady Windsor .Sebagai sub-kultur, Punk berkembang tahun 80-an. Punk sebagai gerakan mengunggulkan rasa toleransi dan kebebasan. Punk, sebagai sang pemula, yang pertama meneriakkan ketidakadilan dan perlawanan terhadap sistem yang korup.
-Apa arti menjadi politikal bagi kalian?
Mike Marjinal: Berusaha terlibat dengan realitas, melawan sistem yang korup, dan berusaha melakukan perubahan yang lebih baik dari hal yang terkecil, teman, keluarga, tetangga, dst.
-bagaimana kalian menjalankan etos dan prinsip yang tumbuh dan berkembang
dalam punk rock seperti konsep D.I.Y hingga beragam bentuk kesadaran
sosiopolitikal dalam keseharian baik secara personal maupun sebagai band?
Mike Marjinal: Do It Yourself itu kan sesuatu yang ideal, sehingga kita mampu berjalan di kaki sendiri, nggak tergantung dengan sistem yang nggak berkeadilan. DIY, sebenarnya kan sudah ada dalam etos perlawanan dalam budaya kita. Suku Samin di Jawa Tengah dan sekitarnya itu sudah DIY, membuat peradabannya sendiri ketika daerah-daerah lain ditindas kolonial Belanda. Mereka menanam benih, memanen dan membuat rumah secara bersama untuk kebutuhan bersama. DIY harus dilihat dalam konteks seperti itu di sini. Kita kan nggak harus copy-paste DIY yang ada di England sono, yang ditafsirkan hanya anti ini dan anti itu. Menurut gue sih, DIY itu bertolak dari Kebebasan. DIY itu bukan aturan dan aturan, seperti menolak media mainstream, TV, sponsor, dlsb. Semua hal harus dilihat hubungan sebab dan akibatnya, bukan cuma slogan anti ini dan anti itu: anti TV nasional sini tapi nongol di TV asing dengan alasan solidaritas internasional. Ini sih cipoa! Gue prihatin dengan kondisi kayak gini. Sudah lama scene punk nggak pernah mendiskusikan hal-hal yang mendasar seperti ini. Ayo kita bicara, dengan argumen yang cerdas. Tahun lalu, sebuah televisi swasta nasional meminta Marjinal sebagai nara sumber untuik sesi acara bertajuk Punk. Kru TV datang ke kita, bertanya ini dan itu dan membuat liputan kegiatan sehari-hari di kolektif TaringBabi. Ya, kita menerima dengan terbuka dan apa adanya. Tapi sebelum acara itu ditayangkan, Marjinal disembur fitnah yang keji, dianggap tidak DIY karena bekerjasama dengan media mainstream…Blaut! Kita jadi narasumber bukan untuk promosi album atau ngomong tentang isi perut band, tidak! Jadi, semua itu harus dilihat konteksnya, hubungan sebab dan akibatnya. Kalau kita kerja kita dapat duit, tapi kalau kita diundang main band, coba aja tanya yang ngundang, kita nggak pernah memberatkan tuan rumah. Paling-paling cuma dapet ongkos balik, sekedar makan-makan bareng sedunia ha..ha..ha..
Selama ini, kita hidup bukan dari band. Kita bertahan hidup dan menjalankan aktivitas dari karya yang kita jual. Desain, sablon kaos, kaset,atau nyari duit di luar. Gue kadang ngajar atau dapat kerjaan menggambar di sekolah-sekolah. Gue melukis potret. Ableh selain nyablon juga ngojek. Begitulah kenyataannya… Lagi-lagi harus ogut bilang, “Kite bukan anak band”
-pandangan akan kondisi obyektif scene punk rock lokal sekarang?
Bob Oi: Ada yang hilang dalam scene punk sekarang: diskusi. Dulu kan sempat banyak zine yang terbit, sekarang terbit tempo-tempo dan banyak nggak terbitnya, kalau pun terbit materi tulisannya adalah tulisan-tulisan yang lama, itu pun sebagian besar hasil terjemahan dari zine luar, ya… masih copy-paste!
Implikasinya scene punk nggak pernah belajar mendiskusikan persoalan-persoalan yang mendasar, misalnya tafsir tentang DIY di Indonesia dalam konteks sekarang ini. Scene punk masih bergairah dengan fashion-nya, itu yang kenceng… Padahal itu kan semua simbolis sifatnya, yang harus diungkap menjadi sebuah pengalaman dan kesadaran. Kenapa rambut mohawk ala Indian, misalnya, itu suatu bentuk solidaritas terhadap suku Indian di Amerika yang tertindas dan termarjinalkan. Mengapa punk pakai sepatu boot… Itu suatu perlawanan terhadap militer, kita pakai atribut sepatu boot untuk nginjek lumpur jalanan pasar, ngebersihin got, nginjek tokai! Yang kayak-kayak gitu belum dipahami… Orientasi punk di sini masih sebatas ngeband, main musik, ngobrolnya atau gosip=gosipnya pun masih seputar itu. Punk rock itu genre musik titik. Sedangkan punk adalah way of life, yang ngebentuk karakter kita untuk terus melawan terhadap sistem yang nggak berkeadilan dan mandiri: Pemuda Urakan Nan Kreatif, yang mengedepankan kesetaraan, menolak hirarki. Jadi nggak ada senior dan junior dalam scene punk. Semua bisa saling belajar. Bukan saling menindas, dengan melarang ini dan itu. Tidak ada polisi dalam scene punk. Kalau punk penuh aturan dan aturan yang memblejeti kebebasan… Gua orang pertama yang menyatakan diri bukan punk! Mendingan jadi nelayan di Cilincing mancing ikan di tengah laut, nggak ada yang ngelarang!
-Seberapa besar ekspektasi kalian bahwa musik kalian bisa membawa perubahan
dalam masyarakat?
Mike Marjinal: Harapan terhadap perubahan yang diekspresikan lewat musik selalu menggelora di jiwa kita. Ketika sistem yang menindas dan korup ini merajalela, orang-orang kan selalu gelisah mencari katup pembebasan, minimal lewat musik yang didengar nyangkut di hati menjadi inspirasi untuk perubahan hidup yang lebih baik. Semua itu menjadi kesadaran yang ngasih energi, daya hidup, agar tetap survive di tengah negeri ngeri ini, dan bangkit untuk memperbaiki apa yang rusak atau selesai dalam diri kita, rumah dan lingkungan kita. Musik membentuk karakter individu yang kuat, memimpin dirinya atau rumahtangga/lingkungannya melakukan perubahan. Dari individu-individu berkarakter inilah akan dihasilkan kolektif yang kuat saling berbagi dan menolong yang lemah atau miskin. Kemiskinan kita kan tidak alamiah. Bayangkan Indonesia kan kaya, tapi kenapa kita miskin? Karena individunya lemah. Kita terlalu asyik bergerombol nonton orang ngeduk kekayaan Indonesia, kita lebih senang ongkang-ongkang dapat komisi 10 persen, yang kemudian diributkan. Hentikan itu semua! Ayo, kerja! Kalau kita kerja, niscaya karakter kita kuat! Sukarno dulu sering bicara tentang Berdikari, berdiri di kaki sendiri. Jauh sebelum DIY dikumandangkan di England sono!
Marjinal peduli dengan nation ini. Kita berusaha menulis lirik dalam bahasa Indonesia, karena kita peduli dengan nation ini, ingat Sumpah Pemuda. Awalnya, banyak yang mencibir, kok band punk liriknya pake bahasa Indonesia! Musik bagi kita kan salah satu jalan untuk berkomunikasi. Liriknya harus dipahami orang Indonesia dong. Musiknya boleh aja gado-gado, mau gambang kromong kek atau pake calung seperti Punk Lung dari Cicalengka, itu sangat kreatif, Atau terpengaruh geberan band-band punk sono, tapi lirik harus bahasa Indonesia walaupun nggak harus benar dan baik seperti yang dislogankan pemerintah. Musik itu selain enak didengar, untuk senang-senang tapi harus punya tujuan yang jelas yang diungkapkan lewat pesan yang memberi inspirasi untuk masyarakat. Kita meniru jejak Benyamin S. Semangat bang Ben serta perjuangannya, kita ambil. Terlepas genre musiknya, Benyamin.S bisa dibilang punk sejati.
-Selain lewat musik apa aksi konkrit kalian untuk mengaplikasikan lirik dan
kesadaran sosiopolitik yang kalian sampaikan?
Bob OI: Aksi kongkrit kita, ya lebih dekat dengan masyarakat dengan membuka ruang-ruang kreatif: bikin workshop cukil kayu di gigs, ikut aktif dalam kegiatan gotong-royong. Bikin pelatihan keterampilan sablon, creative-writing, teater, melukis dan berpameran di ruang-ruang publik dan sekolah. Selain membuka ruang dialog dengan memaksimalkan media audio-visual, kayak bikin film pendek tapi bukan pendek pikiran lho.. he..he…he… Semua itu sebagai langkah awal untuk berdialog dengan masyarakat. Tujuannya bukan cuma hal yang politis doang, kita belajar, berkarya, dan bekerja sama-sama. Sehingga masyarakat terlibat dalam proses kreatif kita!
-Bagimana masyarakat disekitarnya memandang dan menerima kalian?
Mike Marjinal:Masyarakat, terutama ibu-ibu, sayang banget ama Marjinal. Kalau kita bikin acara, ibu-ibu di Gang Setia Budi, Srengsengsawah yang bantuin masak-masak. Ibu-ibu pun latihan bina vokalia bareng kita untuk kegiatan panggung Tujuhbelasan. Anak-anak muda mulai belajar nyablon, bikin tato temporer atau bikin distro di sekitar danau Setu Babakan, daerah tujuan wisata lokal itu karena di sono ada wisata perkampungan Betawi.
Bob OI: Pernah sekali gue bawa ransel gede lewat gang mau ke jalan raya. Ada yang nanya mau kemana, tiba-tiba mood becanda gue kumat,”Saya mau pindah, Bu! Kebetulan nih mau pamitan sekalian…” Ibu itu langsung protes: gue nggak boleh pindah rumah, karena dia demen ngeliat keberadaan punk di Gang. Setiabudi. Dia langsung narik-narik ransel gue sambil mau nangis. Akhirnya, gue nggak tega, gue bilang sebenarnya isi tas itu cuma kaos-kaos yang mau didistribusikan ke distro-distro, si ibu pun baru bisa ketawa… Begitulah, kita banyak berhutang budi dengan masyarakat di sana. Ada Babak Jaya yang sudah kami anggap orangtua, ada Pak Maman yang punya kontrakan yang ngasih kebebasan menggunakan rumah itu untuk aktifitas work-shop anak-anak muda, ada anak-anak TK dan SD yang datang tiap sore latihan main jimbe, ada tamu-tamu dari Jerman seperti Mash mahasiswi antropologi Humbolt University, Berlin yang sedang bikin penelitian tentang komunitas punk di Indonesia, atau tamu dari Amerika, Kanada, Prancis, dan tamu-tamu silih berganti kawan-kawan street punk atawa punk kentrung dari Kali Pasir, Jembatan Lima, Kota, Senen, Manggarai, Matraman, Blok M, Meruya, yang datang tukar cerita setelah seharuian ngamen atau kawan-kawan scene punk dari daerah: Porong, Mojokerto,Malang, Blitar, Sukabumi, Bandung, Indramayu, Makasar, Manado, Medan, Pontianak, Ambon, Lampung, Palembang, Batam, sampai Sorong-Papua.
- ada informasi tambahan, rencana kedepan atau proyek lain?
Mike Marjinal: Setelah tour silaturahmi maen di beberapa kota tahun ini: Makasar, Manado, Kotamubagu, Pulau Siladen, Sukabumi, Bali, Cirebon, Bandung, Jampang dan beberapa gigs di pelosok Jakarta, kita sekarang mempersiapkan ngegarap album kelima, masuk studio rekaman di rumah kediaman almarhum Pramoedya Ananta Toer, yang kebetulan cucunya, Adit, adalah drumer Marjinal. KIta juga lagi bergerak berkarya, bikin cukil kayu (wood cut), selama ini karya yang udah banyak tersebar itu akan dipamerkan bulan November di Galeri Nasional, Bentara Budaya Kompas dan Galeri Inisiatif Independent yang diorganisir budayawan Taufik Rahzen. Dateng ya ke pameran ntar… Ada work-shop segala, pokoknya mantrapsss! Selama sebulan bikin pameran di tiga tempat sekaligus!!!! Habis kita kelamaan moloooorrr, sekarang ayo bangun! Banguuuunnn! Mantraps


















bukanny punk gg ba 5mbrang d publika5ikan??/
tp npa marjinal trima tauaran tv uata tuh??
bkannya itu yang jd omongan nak punk 5treet??
@me
ya namanya sudut pandang bro,gw kira ini kebebasan pola pikir,kita sebagai kawan hanya bisa mengingatkan saja.toh semua punya jalan masing,implikasi ada yang suka ma ga suka itu wajar,terima umpatan dan pujian itu manusiawi ***
***
punk tetap kembali kepada punk itu sendiri!
*pendapat gw
*
Kalau saya ditanya, “apa yang membuat anda tertarik dengan punk ?? tato nya ?? rambutnya ?? ato usiknya ?” Yang saya jawab bukanlah tao, rambut atopun musik, melainkan BUDAYA. Yang saya suka dari punk, mereka punya budaya sendiri, punya kultur dan adat istiadat sendiri. Itu yang saya suka dari punk.
Jujur saja, sebenarnya saya ini gak terlalu tahu secara mendalam, saya cuma dger pistols dan rancid. Tapi saya suka kulturnya. Punk adalah musik yang memiliki prinsip. Sangat disayangkan. Pandangan masyarakat Indonesia masih belum dewasa..
Oiya, yang saya lihat, pada ero Sex Pistols belum ada rambut mowhawk ya. Lalu sejak kapan ada rambut mowhawak ??
Untuk artikel tentang anarchy itu sebenernya saya comot2 dari tempat-tempat lain. Tapi ternyata isinya sama seperti di wiki… Jadi bkn saya yang nulis di wiki… hahaha, sori ya, tktnya nanti salah sangka
Salam,,
http://www.anarchy-rocknroll.com
adoh… maaf ya keyboard nya agak sedikit soak… jadi tulisannya suka salah2.. maklum udah lama komputernya.. udah 6 tahun..
@nunu bantenz
untuk mohawk sebenernya gw kurang paham sejarahnya tapi di setiap site tentang punk yang gw buka, mohawk itu solidaritas untuk suku indian yang tertindas di amerika sono…dan yang pertama kali memperkenalkannya istrinya si malcom matlock *vivian* yang memperkenalkan pertama kali kepada SID dan akhirnya menjadi tren sampai sekarang *kalo ga salah
*
yep! memang krg klop tanpa MARJINAL di ranah Punk Indonesia. Sayang sekali dengan adanya pemboikotan dari para “kecoa-kecoa” yang sok paling ngatur en sok senior jadi kita jarang banget tuk menyaksikan MARJINAL di atas panggung.
Kepada kawan2 seluruh tanah air… marilah kita saling membantu, bukan saling menindas!
makin salut aja nih gw ama lo, Ningrat! Tetap semangat ya.. gak apa2 lah copy paste juga, yang penting sumbernya jelas..
ok, sukses ya, jrotz!
hmm..
marjinal..
‘luka kita’…
persembahan luar biasa..
tai,gembel,bau,bubarin aja
@ tehaha
salam kenal mas
@andi
gw kira ini merupakan faktor yang membuat kita sebagai manusia di tipu oleh dunia,kehalusan,kemewahan,kecantikan,kesenangan semu,kemunafikan,seakan kita di butakan oleh itu semua.tampa melihat ketulusan hati yang sesungguhnya
ga ada yang sempurna di dunia ini pren!
viva marjinal !
salam kenal
kamis,29 may 2008 pukul 09;00 pm
Salam kenal aja dari gue
Zakky punk street
Jujur aja gue ini lebih suka ama punk daripada premanisme
menurut gue gerakan punk adalah sebuah anti penindasan or sebuah kebebasan
banxak orang mengira punk itu rusuh sebut aja nakal or anarchy
padahal yg membuat perilaku seperti itu hanxa anak-anak yanx belum bisa mendalami punk
pesan buat aparat
punk tidak pantas untuk ditindas
dan jadikan punk sebagai ancaman jangan jadikan punk sebagai kaum tertindas
anti anjink anti rasis anti capitalis anti penindasan
@zakky
salam kenal bro!
@zakky
salam kenal bro !!
keep D.I.Y
cinta itu indah, jahat, surga, derita, neraka, n semua.
tapi, bagi gw. “CINTA ITU PEMBODOHAN” emg bnr kata marjinal, ; tapi bersambung
@kuncung
betul bro ! salam kenal
halo..
gw agx sedih neeh ngeliat street punk di palembang.. kyk nya jrg bgt tuh kliatan apa mungkin mereka sibuk dng masa dpn, bini, anak, cucu, or yg laen2 y…? malah yg rame anak2 gaul skin punk yg sok.. modal piercing n tatto doank… kerjaan nya nyari ribut lg..
tp menurut gw pun itu bukan skin, tatto, mohawk, piercing ato yg laen.. punk itu budaya yg mempunyai kultur sendiri, kebebasan, dan bukan premanisme..
tp di indonesia msh bnyk yg memandang sebelah mata…
see ya in the pit… oi..oi
oh iya kpn tuh marjinal ke palembang…
kaum pinggiran banyak yg nugguin di sini
DIAK GA LAE..?
qw salut… ama prinsipnya dan cara pandang marjinal
walaupun hanya satu/dua personil saja yg bicara disini.. bagiku semuanya ada.
punk memberi sebuah arti baru dan telah mengalir di darahku..dan di kehidupanku
“APA YANG ADA DIHATI BIARLAH DIA TETAP BERBUNGA..
ingin sekali tertawa bersama….
TREAT PUNK AGAIN… ikuti versimu
A LUTA CONTINUA….
@damz palembang
yeah dan harus kita lawan pembunuhan karakter yang menghambat kreatifitas.
tentang yang berkeluarga ato bini cucu, itu mungkin kembali hal yang paling personal dan hakiki, bahwa tiap manusia akan mencapai hal2 seperti itu. jadi freedom of personal. salam kenal mas.
wah saia cuma pengagum marjinal karena eksistensinya dalam hubnya dengan masy dan membuat image punk bukan yang di hauncurkan oleh posser2 selama ini, karena gw yakin ada batasan yang jelas antara preman dan punk, ya ga choi?
@gente d’ peace
ikut teriak keep D.I.Y!!
hidup punk street!
Bwt yg tau info gigs di jkarta tlg kbrin gw y! Gw udh lm vakum, smnjak d jkrta & dipusingkan urusan kul.
punk adalah suatu gerakan ato tindakan turun k jln !!!
jngn brdiam sajah,..ayo angkat dan kibarkan bendera Anarchy,…
REMIS [[Revolusi masyarakat miskin]]
g usah mOhawk lah yg pntng hti n jIwA,..klo punk mOhAwk zmUa g bWarnA brO,..crosink atu
tp sya oge suka bngt ma mohawk,…tyuz d pinggr ny da rambut ky solasiban,..ky wati Explo ,…cakep ky sya
mari kawan kawan gue yg diman aj mari kita berdansa rame rame… fuckfuck………………………….. u……………..
FREEDOM JUSTICE…………………………………….
jika aju dtanyA Mengapa tertarik dengan kaum marjinal?????…..JWB:tidak semua kaum marjinal dan anak punk anarki….sebenarnya mereka lbih pintar dari orang yang ada datas sana yang pkek dasi…..tikus berdasi itu bajingan yang punya otak dipakei untuk menjadi kayu nbakar NERAKA……
JADIKAN KAUM MARJINAL SEBAGAI GAYA HIDUP YANG BEBAS DENGAN APA JALAN HIDUP KITA…..
LAWAN SEMUA KAUM YANG MENGHANCURKAN NEGERI…..
jadi kan marjinal sebagai contoh hidup kita sehari-hari karna marjinal itu adalah bapak punk indonesia
gw pikir marjinal kerja sama dg media karna ingin menyampaikan pd indonesia tentang “the real of punk” tanpa ada maksud meninggalkan idieloginya,lagian klo punk tidak disosialisasikan kapan punk akan merasuk ke jiwa tiap individu dunia,maju trus marjinal gw tunggu album barunya.PUNK NOT DEAD……..
marjinal…aku salut ama musik bung yg mencerminkan paradigma sosial yg sesugguhnya. teruskn marjinal pada konsep relnya perjuangan pembebasan. DIY
oi….oi….. guy’z
met knl dri saya..
“punk never die”
Ah duka
oi…oi bung kami dari komunitas bojonegoro
oi…oi…oi bagi comunitas marjinal maju trus pantang mundur qey…..? kpn marjinal ke sumbar x km ank the street punk sumbar ingin marjinal dtng
buat comunitas marjinal gw suka sm gy hidup x..?
nie dri punk ngampel .punk adalah suatu gerakan yg suka anarkis
buat anak2 cwek yg mw knln langsung ja????
gw suka bngt ma marjinal lagu3nye enak2
marjinal tnggalnye d jakarta/dluar.
kenapa setiap anak punk pasti cintanya itu sejati
Jangan maen y kl ad obat. Anggur jg enk lho.
1 lg sbelum acra punk nabung dlu,jauh2 tp kq g masux
Jiwa berontax ad dlm dri kta smua..brontax mengancam kta smua..brontax ad dlm pandangan kta smua…karna brontax adlh KESADARAN…!! Bintaro cinto marjinal
punk lawa emo itu bangsat babi moki gila
oi………….aku dari perawang
memang banyak anak punk yang belom tahu arti sebuah punk,punk sekarank udah mati punk sekarang punya orang kaya
ngehek,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,cinta tai
punkk anK’A BAe gag See,,
klo liT NAk punk dahh takut akuu
tetep berkarya buat marjinal…..
Kapan2 Maen lagi di Bontang, Marjinal..
sblumnya thanks bgt atz tmbhan pngrtian bwt q???tu lh bro,sdut pndang yg tdk mnusiawi,yg tk mkir sbab akibat?/?/dah mju trz dgn idelogi yg kau pny.>…>.satu bumi satu mnusia?
salam kenal dari punk jakarta…ttp semangat kawan
sneng bro atz rsensi dr kk mrjinal?pkokx q dri hti nuraniq sllu mndkung…
thankz banyak buat temen2 MARJINAL..,terutama bank BOB “n” bank MIKE..,,setelah saya membaca wawancara d’atas saya mendapat kan banyak masukan..,dan pelajaran…
yang penting BE YOUR SELF…
thankz buat semuanya..,dan jangan kapok maen2 k’BONTANG…